Feature
Perjuangan Penyintas Covid untuk Melihat Dunia
Oleh: Razan Dzaky Kesuma (10080020149)
Putri Azka Fatihatunnizma, seorang anak perempuan berusia 20 tahun
yang kini duduk dibangku kuliah semester 3 di Universitas Islam Bandung bersama
keluarganya menjadi salah satu korban yang terpapar Covid-19 dari 21.807 orang
yang terpapar pada bulan Juni 2021. Saat itu, puncaknya Covid-19 di Kota Bogor
membuat tenaga medis bekerja lebih keras dalam menangani kasus yang menimbulkan
banyaknya pasien yang terpapar di rumah sakit. Beberapa rumah sakit bahkan
kekurangan tenaga medis. Pemerintah Kota Bogor pun mengeluarkan kebijakan
semi-lockdown guna mencegah terjadinya kerumunan di tengah-tengah kasus Covid-19
yang semakin meningkat.
Siapapun bisa terpapar Covid-19, termasuk putri dan keluarga. Pada
hari Jumat, 28 Mei 2021, Ayah dari Putri telah selesai melakukan vaksinisasi
dari kantornya. Namun, pada Jumat, 4 Juni 2021 sang ayah dinyatakan positif
terpapar Covid-19. Semuanya berawal ketika sang ayah sedang melakukan rapat
pertemuan di Hotel Bigland Sentul. Pulang dari rapat tersebut, ia merasa tidak
enak badan. Gejalanya cukup mirip dengan gejala orang yang terpapar Covid-19. Keesokan
harinya, ia mendapat kabar bahwa staffnya positif terpapar, karena mendapat
kabar seperti itu, akhirnya Putri sekeluarga melakukan Test SWAB-Antigen dan hasil
akhirnya menyatakan bahwa semuanya positif terpapar Covid-19. Pada hari itu
juga ayahnya dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah di Kota Bogor dikarenakan kondisinya
cukup mengkhawatirkan jika dirawat di rumah. Putri, sang ibu dan kedua adiknya
tetap melakukan isolasi mandiri di rumah. Rumah dan seisinya disemprot
disinfektan, mereka juga menggunakan masker di dalam rumah, saat makan dan
tidur pun harus terpisah.
“Hampir semua gejala aku rasain, setiap sore menjelang malam,
suhu aku juga selalu semakin naik di antara 38-39°C. Waktu salah satu tenaga medis dateng
ke rumah buat check-up ternyata tensi aku cukup rendah karena di bawah 100,
nadi aku juga lemah, saturasi oksigen aku setiap diukur pake oximeter selalu di
bawah 90. Katanya, itu yang nyebabin
aku selalu pusing & sesak nafas. Salahnya, aku juga ga mau makan sama sekali, jadi selama sakit kemarin cuma makan buah
dan Energen." Melihat
kondisi Putri yang cukup lemah, nakes tersebut menyarankan agar ia diinfus di
rumah atau dibawa agar dirawat di RSUD. Namun, 3 hari kemudian ada perubahan
yang cukup baik dan setelah dipertimbangkan akhirnya ia tetap melakukan isolasi
mandiri di rumah.
Pada Selasa, 22 Juni 2021, Ibunda Putri mendapat kabar bahwa sang
ayah harus segera melakukan transfusi darah karena ada kemungkinan kadar Hbnya
turun. Pada malam harinya, mereka kembali mendapatkan kabar dari pihak RSUD
bahwa ayahnya harus menjalani transfusi donor plasma darah konvalesen. Donor plasma konvalesen merupakan metode pengambilan darah
plasma dari penyintas Covid-19 yang dapat diberikan sebagai terapi untuk pasien
Covid-19 yang sedang dirawat. Namun, prosesnya tidak semudah itu karena pihak
keluarga harus mencarikan atau menggantikannya ke PMI pusat Kota Bogor, apalagi
saat itu kasus penyebaran Covid-19 sedang meningkat jadi cukup sulit untuk
menemukan pendonor.
Satu per satu gejala Covid-19 sudah mulai menghilang, indra
pengecap & penciuman sudah dapat dirasakan kembali. Pada Rabu, 7 Juli 2021
Putri sekeluarga memutuskan untuk melakukan Test SWAB-Antigen kembali guna
memastikaan apakah mereka sudah sembuh dari Covid-19.
Pada hari itu juga hasilnya menyatakan mereka sudah negatif terpapar Covid-19
dan sudah selesai menjalani isolasi mandiri. Sore harinya, petugas SATGAS Covid-19
setempat datang kembali ke rumah untuk menyemprotkan disinfektan ke seluruh penjuru
rumah.
Di
masa-masa sulitnya selama terkena Covid-19, Putri menjadi tahu bagaimana
sulitnya orang-orang yang ingin melakukan transfusi darah & sulitnya mendapatkan
donor plasma darah konvalesen. Banyak yang sangat membutuhkan namun keadaan
juga sedang tidak mendukung dengan meningkatnya kasus Covid-19 pada saat itu.
Para resipien atau pihak keluarga harus menyediakan golongan darah yang sama
untuk mengganti kantong darah di PMI. Hal ini menarik simpati Putri, ia menjadi
sukarelawan untuk mendonorkan darah dan menjadi salah satu pendonor plasma
darah konvalesen untuk orang-orang yang membutuhkan. Pasca 14 hari ia dinyatakan
telah negatif terpapar Covid-19, ia berinisiatif menjadi penyintas untuk
orang-orang yang membutuhkan donor plasma darah konvalesen. Ia berharap dengan
menjadi salah satu pendonor plasma darah tersebut dapat memberikan kesempatan
kepada korban untuk bertahan hidup dan menyelamatkan nyawanya.
Comments
Post a Comment